Selasa, 22 Oktober 2019

Naskah Kuno

Naskah Kuno
( Datu Artadi)
(Naskah kuno Nur Muhammad)
  Assalamulaikum wr.wb hallo guys sebelum ke pembahasan inti tentang naskah kuno ini saya mau menceritakan ke kalian perjalanan saya dan teman-temanku mencari narasumber ke desa Karang Raden, Tanjung,KLU. Saya penasaran dengan naskah-naskah kuno yang ada di pulau Lombok, karena seperti yang kita ketahui naskah kuno itu dimiliki secara turun-temurun, dan tentunya tidak dimiliki oleh setiap orang. Untuk menambah wawasan saya tentang naskah kuno saya ingin mendapatkan informasi seputar naskah kuno dari narasumbernya secara langsung sebagai orang yang mempunyai naskah kuno tersebut. Setelah saya mencari informasi menanyakan kepada teman-teman saya kepada siapa saja yang bisa saya jadikan narasumber tentang naskah kuno, pilihan saya jatuh kepada Datu Artadi selaku ketua adat desa Karang Raden, Tanjung KLU karena menurut saya beliau pasti sudah berpengalamam dan bisa memberi saya informasi yang cukup tentang naskah dan adat setempat. Mengenai adat yang lebih kental berada di daerah Bayan KLU namun saya tidak menemukan informasi lebih jelas mengenai narasumber yang ada di sana maka saya memilih daerah Tanjung saja. Saya sarankan juga buat kalian yang akan berkunjung ke Lombok mampir ke bagian Lombok Utara karena kulinernya terkenal enak-enak seperti sate tanjung,dsb. Jadi di daerah KLU tidak hanyak adatnya yang kental akan tetapi kita juga akan disuguhkan dengan pariwisata-pariwisata yang ada di sana seperti yang di katakan Datu Artadi kuliner khas suatu daerah juga termasuk dalam budaya, dan dari hasil foto yg saya unggah ke story instagram milik pribadi dan snap whatsapp ternyata banyak yang penasaran pada daerah tersebut dan mereka juga ingin berkunjung. Perjalanan saya dan teman-teman menuju ke KLU pada pagi hari sekitar pukul 8 pagi, kami sengaja memilih perjalanan dari daerah Senggigi supaya tidak terlalu bosan di perjalanan, karena kita akan disuguhkan dengan pemandangan pantai-pantai yang indah. Dan benar saja perjalanan yang kami rasakan tidak begitu terasa lama diperjalanan. Sesampainya di rumah narasumber kami disambut dengan hangat oleh Datu Artadi dan keluarganya. Perjalanan pulang menuju Mataram kami berpencar saya memilih dari wilayah pusuk supaya suasana perjalanan berbeda dari sebelumnya. Pada wilayah Pusuk kita akan di suguhkan dengan pemandangan gunung-gunung dan binatang yang ada disekitar seperti monyet.
   Baiklah kita kembali ke pembahasan inti tentang naskah kuno. Sesuai dengan penjelasan yang saya dapatkan dari narasumber yaitu Datu Artadi selaku ketua adat desa Karang Raden, Tanjung KLU mengenai naskah kuno beliau menjelaskan bahwa naskah kuno itu sebenarnya ada sebelum Islam, diperkirakan awal pada abad  XI dan ada juga yang setelah Islam perkiraan akhir pada abad XVI. Mengapa dikatakan sebelum Islam karena sebenarnya manusia pada zaman dahulu kala menganut agama Hindu dan Budha.
      Naskah kuno pada zaman Hindu diantaranya menceritakan tentang Ramayana, Mahabrata, Arjuna Wiwaha. Dan setelah masuknya Islam dan para Walisongo, terutama ke daerah bagian utara naskah kuno berubah dengan nuansa-nuansa Islam dan ada sembilan tema.

      Abjad Aksara Jawa ada 20 (dua puluh) dan Aksara Lombok ada 18 (delapan belas) tanpa DHA dan THA. Ada beberapa takepan lontar diantaranya: 
1. Serat Menak
2.Wedatama
3.Tapel Adam
4.Hana Kidung 
5.Damar Wulan 
6.Serat Hidayat
7.Dalang Jati
8.Tekawandi
9.Jatiswara
10.Nabi Meparas
11.Nur Muhammad
12.Kisasulambia
13.Lahir Nabi
14.Mikrad Nabi
15.Marakarma
16.Jaka Tarub
17.Panji Wulung
18.Monyeh
     Datu Artadi sudah mempelajari naskah kuno sejak beliau SD (Sekolah Dasar) sekitar tahun 1960-an. Akan tetapi banyak naskah yang beliau miliki dipinjam namun tidak dikembalikan lagi, bahkan ada lagi naskah yang belum ditemukan dari sisa-sisa rumahnya yang rusak akibat gempa Lombok tahun 2018. Sehingga yang kami dapat lihat pada saat ke rumah beliau hanya hasil fotokopi saja. Pepaosan (nembang) agama Hindu sangat berbeda dengan nembang agama Islam,pepaosan biasanya dilakukan pada saat gawe ayu/gawe hidup (acara khitan, pernikahan, dll) dan gawe pati/gawe mati (tujuh harian, sembilan harian, empat puluh harian, seratus harian, dan seterusnya) yang dilakukan setelah zikiran, pepaosan (nembang) bertujuan sebagai suatu bentuk menghibur masyarakat. Datuq Artadi banyak melestarikan budaya-budaya yang ada di KLU bahkan sering juga mendapatkan pehargaan juara 1 atau 2 pada acara lomba, dan sebagainya. Perlombaan yang dilakukan tidak hanya di daerah Lombok saja namun di luar Lombok juga seperti Jakarta, dan daerah-daerah lainnya untuk mengenalkan budaya Sasak pada seluruh daerah di Indonesia bahkan untuk orang asing yang datang ke Indonesia. Datu Artadi sangat suka dengan hal-hal yang berbau seni,beliau juga mempersilahkan kepada siapa saja yang ingin belajar tentang naskah kuno,drama maupun kebudayaan lainnya bisa datang ke desa Karang Raden Tanjung KLU. Datu Artadi mengatakan bahwa kebudayaan penuh dengan simbol-simbol dan makna-makna yang baik untuk manusia,jadi kebudayaan penuh dengan tujuan dan makna tersendiri, kebudayaan tidak hanya muncul begitu saja tanpa tujuan dan makna.
  "Manusia meninggal ku temukan pusaranya tapi jika kebudayaan mati kemana ku temukan pusaranya" itu lah slogan yang di ucapkan oleh Datu Artadi. Jelas manusia meninggal kita bisa menemukan kuburannya, namun jika kebudayaan sudah dilupakan dan tidak ada penerus maka kita tidak bisa menemukan jejaknya lagi. Kita memang tidak harus menutup diri dari budaya luar namun kita juga perlu menyaring terlebih dahulu mana yang sesuai maka kita ambil. Suku dan agama kita bisa berbeda namun dalam budayalah yang menyatukan kita. Jadi pesan yang disampaikan Datu Artadi kita sebagai masyarakat yang kaya akan budaya harus tetap melestarikan kebudayaan yang ada dan tentunya harus bangga juga setidaknya kita tau apa saja kebudayaan yang ada di daerah kita sendiri, jangan cepat terpengaruh dengan budaya asing yang normanya jauh berbeda dengan kehidupan masyarakat Indonesia.